Pembelajaran On Line: Siswa Perlu Sentuhan Emosi

Di masa wabah Covid 19 masih melanda negeri bahkan dunia, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau On Line menjadi satu-satunya cara agar anak tetap mendapatkan pendidikan dan aman dari terpapar dari virus ini. Namun dalam pelaksanaannya siswa mengalami sejumlah hambatan belajar berupa emosi negatif mulai dari kebosanan hingga stress dan masalah kesehatan mental saat belajar di rumah.

Dalam pelaksanaan PJJ ini, banyak ditemui keluhan orang tua maupun anak antara lain:  kesulitan menjawab soal, kesulitan memahami materi, kurang konsentrasi dan materi kurang jelas. Hal paling sering dikeluhkan adalah banyaknya guru yang lebih sering memberikan tugas namun kurang membangun cara belajar menyenangkan dan kolaboratif yang mendorong siswa untuk dapat merasakan interaksi bersama dengan temannya.  Bahkan ada beberapa kasus yang cukup ironis yang terjadi pada anak di kelas akhir SD, SMP hingga SMA/SMK. Anak naik kelas dengan komposisi berbeda dimana mereka tidak kenal satu dengan yang lain karena sekolah menyelenggarakan proses belajar mengajar yang lebih memfokuskan pada pemberian tugas. Hingga saat mereka lulus sekolah, anak-anak merasa sedih karena mereka merasa sekolah tanpa kenal dan tahu teman-temannya dan merasa tidak mempunyai memori yang indah tentang sekolah.

Novi Poespita Candra, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, sekaligus Co-founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), melakukan riset untuk mengangkat suara siswa yang belajar melalui sistem PJJ di masa pandemi dengan responden sebanyak 1599 siswa SD, SMP dan SMA/SMK pada bulan April 2021.  Hasil riset menunjukan bahwa siswa banyak mengalami emosi negatif dalam bentuk kebosanan, stress dan frustasi. Emosi negatif yang dirasakan siswa tertinggi di jenjang SMA/SMK/MA yang mencapai hingga 70,6 persen. Pada jenjang ini emosi positif hanya berkisar 24,6 persen dan emosi netral 4,8 %. Sedangkan untuk jenjang SMP, emosi negatif anak sekitar 57 persen dan siswa SD sekitar 57 persen.

Copyright: GSM

Ditambahkan oleh Novi bahwa PJJ atau pembelajaran On Line, semestinya tidak hanya terfokus pada persolan akademik, namun juga masalah kesehatan mental anak yang tidak kalah pentingnya. Kebutuhan engagement sangat penting untuk memotivasi anak belajar. Karena itu, pemahaman guru tentang pentingnya memperhatikan kondisi sosial emosional anak sangat vital. Guru harus memahami bahwa kebutuhan dasar anak adalah ‘bermain’ dan ‘berinteraksi’ dengan teman-temannya. Oleh karena itu, kreatifitas sekolah maupun guru dalam menyusun strategi pembelajaran On line yang memungkinkan anak berinteraksi secara dekat dengan temannya sangat diperlukan. Pembekalan pemahaman orang tua (Parenting) juga tidak kalah penting agar anak-anak merasa nyaman dan enjoy dalam menjalani PJJ di rumahnya. (Dwi/SI/2021)

Artikel Lain

Refleksi Untuk Meningkatkan Kualitas IKM pada Tahun Ajaran 2024/2025 di DIY

Yogyakarta – BPMP DIY menyelenggarakan kegiatan Refleksi Tahap 1 atas Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) pada …

Kolaborasi BPMP DIY dan PEMDA Untuk Wujudkan Pendidikan Bermutu di DIY

Yogyakarta – BPMP DIY menyelenggarakan kegiatan Program Manajemen Operasional (PMO), Kamis (20/6/2024) di Hotel Grand …