Asesmen Nasional untuk Memperbaiki Mutu Pembelajaran di Indonesia

Paket program merdeka belajar Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan salah satunya adalah asesmen kompetensi minimum (AKM) untuk literasi dan numerasi. Asesmen yang merujuk pola Program for International Student Assessment (PISA) ini juga akan disertai survei karakter dan iklim belajar serta iklim satuan pendidikan. Mengambil tempat di pendopo SMA Islam Al- Azhar 9 Yogyakarta, diskusi tentang AKM dan implikasi dalam pengajaran  pembelajaran dilaksanakan selama dua hari, 23 -24 September 2020.

Pemateri sekaligus pemandu diskusi,Dr Sugiyanto (widyaiswara madya Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan DIY),pada hari pertama menyampaikan apa dan bagaimana AKM sekaligus penguatan  pengajaran numerasi.Di hari kedua, pemateri  diskusi , Marike Nawang Palupi  (widyaiswara muda LPMP DIY) membahas tentang asesmen kompetensi minimum dan implikasinya pada pengajaran dan pembelajaran di satuan pendidikan.

Sebagai pengganti kebijakan Ujian Nasional, tujuan dari asesmen nasional (AKM,survei karakter dan iklim belajar serta satuan pendidikan) mengevaluasi kualitas satuan pendidikan sekaligus sistem pendidikan dengan informasi yang lebih komprehensif.Hasil UN selama ini belum dapat memberikan gambaran tentang kualitas pengajaran pembelajaran selain dari hasil skor mata pelajaran yang diujikan. Asesmen nasional akan memotret hasil belajar kognitif (asesmen kompetensi minimum literasi dan numerasi),hasil belajar sosial emosional (survei karakter) dan karakteristik input sekaligus proses pembelajarannya.Informasi dari asesmen nasional ini akan menjadi umpan balik satuan pendidikan, dinas pendidikan dan Kemendikbud untuk memperbaiki mutu pembelajaran.

Sebagai konsekuensi tujuan untuk memperbaiki  mutu pembelajaran maka pelaporan dari hasil asesmen nasional tidak untuk memeringkat satuan pendidikan. Sehingga dampak buruk pemeringkatan sebagaimana dialami sebelumnya saat kebijakan UN berlangsung dapat diminimalisir. Mutu pendidikan seharusnya memang diawali  dari memperbaiki apa yang terjadi pada  ‘kotak hitam’ pendidikan yaitu ruang kelas di tiap satuan pendidikan.

Beberapa poin yang menjadi hasil diskusi adalah pertama peningkatan kompetensi literasi membaca tidak hanya menjadi fokus mata pelajaran Bahasa tetapi lintas mata pelajaran. Kompetensi literasi membaca merupakan kompetensi generik yang dapat dikembangkan lintas mapel seperti kompetensi merangkum, menyajikan informasi dan sebagainya. Poin kedua perlu melakukan kontekstualisasi dalam pencapaian kompetensi melalui sumber belajar, media dan kegiatan belajar. Poin ketiga semakin memaksimalkan pembelajaran aktif dengan merancang kegiatan-kegiatan yang menjadi tangga bantuan untuk pencapaian kompetensi siswa. Poin terakhir adalah menjadikan diri sebagai guru pembelajar dengan selalu terbuka terhadap hal-hal baru dan melakukan refleksi terhadap proses pengajaran dan pembelajaran yang telah dilakukan. (Marike-WI)

Artikel Lain

Pak Ery Mengungkap Kiat Sukses Sleman Meraih Anugerah Merdeka Belajar 2024

Sleman – Ery Widaryana, pria asli Bantul ini, Rabu (11/7/24) menyambut kunjungan tim Pubkom BPMP …

BPMP DIY Mendorong Aktivasi Akun belajar.id untuk Mendorong Percepatan Transformasi Pendidikan

Yogyakarta – Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) DIY mengadvokasi percepatan aktivasi akun belajar.id sebagai bagian …